DSCF0174

Merbabu Mount, Central Java

DSCF9942

Taken in Merapi Mountain, 2900 m above sea level

DSCF9956

The Sun rises in the cloud wave, Merapi mount.

IMG_0206

one of the twilights in saonek Island

IMG_0325

Son of hope, AL, a Papua child

IMG_0944

Tiptoe to the edge of contribution at the sky of remote area

IMG_1273

stop stepping

IMG_5166

Hidden smile

IMG_5120

we are just ordinary grassroot

Lupa

Posted: February 26, 2014 in Dalam Titik Hening

Lupa| caranya ga tidur dan rela melewatkan makan demi satu asa
Lupa| caranya berceloteh gembira
Lupa| caranya berkehendak dengan sangat ceria
Lupa| caranya menulis surat cinta untuk sepasang mata
Lupa| bagaimana cara bertanya bagaimana
dan hari ini kau hadir dalam ketiadaanmu membuatku…
Lupa| bahwa aku pernah lupa

(Lia kepada MSU)

Selamat, untuk ST dan  TMMIN. Terimakasih untuk mengingatkanku semua yang tertinggal di belakang. Asa.

Percayalah bahwa ini merupakan sebuah usaha yang aku lakukan untuk cover up my own heart. coz it’s very hard for me in last few days. Yes it is rainy days, even thunderstorm in some place in our country. It also true that flood were faced by many people in our Capital city and around there. But it was not the cause, in my case now. For some reason i couldn’t tell you about it. But for real, i was very lost. Doing something passionately, doing bad thing badly, doing good thing greatly, I almost forgot it all.

As my friend know, that my recent business is sitting behind the desk, in front of personal computer, and reviewing something that very small effect. Yes, i did. I did.

Then my finger went into search engine and found something that i looked for, in such a inspiring website. I would mention it because it’s owned by a political party. There were so many inspiring article the part of their site named “Renungan”. We come to the article that was written by a student from Al-Azhar Cairo, their member (maybe). Not Much that he wrote in his article but, it beat me much.

He Said in his article, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

Apabila telah banyak dosa seorang hamba, sementara tidak ada baginya amalan yang akan menjadi penebusnya, Allah akan mengujinya dengan rasa sedih. (HR. Imam Ahmad)

Perhaps, itulah yang sedang terjadi padaku……

Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, artinya, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS. asy-Syura: 30). Dan ‘Ali bin Abu Thalib Rodhiyallohu ‘Anhu pernah berkata, “Musibah tidak akan menimpa kecuali karena dosa (yang diperbuat), dan musibah tidak akan diangkat kecuali dengan taubat.”

Dan tidak ada keburukan yang lebih buruk dibandingkan kamu mengetahui dirimu dijauhi dan memiliki jarak dengan Rabb-mu.

“(Allah Subhanahu Wa Ta’ala) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalannya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)

Sebagian hatiku berkata, ” takutlah”. takutlah akan kemungkinan pertama bahwa memang amalanmu barangkali tak cukup andal untuk mengatasi dosamu belakangan ini sehingga hatmu ditimpa kerisauan dan kesedihan. Tapi janganlah lia, kau berputus asa kepada rahmat Allah. Believe that once Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam ever bersabda, “Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya cobaan (musibah), dan sesungguhnya apabila Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberikan cobaan kepada mereka, maka barangsiapa ridha, maka baginya keridhaan dari (Allah Subhanahu Wa Ta’ala) dan barangsiapa yang benci, maka baginya kebencian dari (Allah Subhanahu Wa Ta’ala).” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Oh Allah, there is no reason for me to keep living in this jumbled world, but for facing YOU in the yaumil akhir. It was very hurt me that You (or me) step apart from me ( You). So please forgive me, keep me in your path. keep me there. keep me there with You. no matter there is no friend, there is no other love, just keep me there with You.  You know every mili of me,  You Know How lost i would be without You.

Rabbana, Ya Tuhan kami sungguh kami telah kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Our Lord, we have wronged ourselves, and if You do not forgive us and have mercy upon us, we will surely be among the losers (Al-Araaf:23)

Do as you please

Posted: December 15, 2013 in Dalam Titik Hening

For the ArchAngel Gabriel (as) once said to Rasulullah (saw). “Do as you please in this world, Oh Muhammad, but remember, you will be accountable for all that you do. And live as you please in this world, Oh Muhammad, but remember, one day, you will taste Death. And love whom you please in your life, Oh Muhammad, but remember, one day, you will part with your loved one in death.” So dear Seeker, you are free to come or go, as you please.

Seorang Hujan

Posted: December 12, 2013 in Cerita Pendek Biasa

“Ya Tuhan mengapa tempat ini penuh sesak, aku akan segera berubah jadi monster jika saja pintu itu tidak segera terbuka”, dari sampingku seorang kawan menggerutu.

“tenanglah, sepertinya memang sudah saatnya pintu dibuka, bersabarlah sedikit lagi”. Kataku menenangkannya. Bagaimanapun keluhannya itu akan segera menular jika tidak dihentikan.

Aku lihat memang sudah puluhan ribu ditempat ini, mereka semua dikirim Tuhan. Mereka adalah wakil Tuhan untuk alam semesta, setidaknya untuk menyampaikan kasih-sayangNYA kepada manusia. Dan aku selalu curious untuk itu. Beberapa kali memang aku bertemu langsung dengan mereka, tapi kehidupan manusia memang selalu penuh warna, aku tidak akan pernah bosan.

“Kita akan segera Turun, bersiap-siaplah!” teriakan penjaga pintu menghentikan lamunanku tentang kehidupan manusia. “ Tidak ada yang oleh keluar pintu, kecuali yang telah meluruskan niatnya!” ditambahkannya kalimat terakhir dengan muka tegas. Rupanya kali ini langit mendengar ribuan doa baik. Kami diperintahkan untuk menyampaikan kabar baik itu. Menjadi representasi kebaikan Tuhan kepada hambanya yang berdoa (maupun yang tidak—sayang sekali harus juga ada mereka).

Satu persatu, kami keluar diawali dengan para anak kecil, lalu remaja, dan orang dewasa datang belakangan. Biasanya mereka yang membuat ‘event’ kali ini meriah. Giliranku tiba, untuk keluar, aku checking lagi di dalam dada apakah niat sudah lurus, tentu saja Tuhan selalu bersamaku. Bismillah.

Duhai Tuhan, betapa baiknya Engkau. Di saat aku turun kali ini, mentari senja tengah menghangat ramah. Angin sore juga membelai mesra. Aku jadi terhanyut sembari membiarkan begitu saja tubuhku dibawa gravitasi. Sejenak melambungkan tanya, mengapa Tuhan menciptakan para manusia menjadi manusia, mengapa aku diciptakan sebagai aku. Tentu saja aku juga tidak berharap apapun, karena Tuhan selalu lebih tahu dibanding aku yang selalu bodoh. Masih ribuan mil menjelang, namun rona kehidupan telah terlihat. Gemerlapan di tengah lampu-lampu dan pendar temaram senja. Eump, absolutely, Tuhan  lebih indah dari ini.

Dari tempatku sekarang perlahan, aku mulai bisa menyaksikan kejadian di bawah sana. Anak-anak kecil berlarian dengan kaki telanjang mengikuti gerakan ibu mereka yang melambai-lambai memanggil. Ada juga sepasang suami istri yang tengah bergandengan tangan berlari. Si suami menarik tangan istrinya untuk mendekati sebuah pohon akasia di tepian jalan. Ah, mereka pikir pohon itu bisa melindungi mereka. Kucuri pandang lagi pada pasangan itu, rupanya bukan perlindungan yang mereka cari, mereka hanya sedang di mabuk cinta. Lihat saja sekarang, mereka tengah asik menjahili satu sama lain. Di bawahku, kota ini terlihat riuh akibat kedatangan kami. Memang agak mendadak, tapi aku kira Tuhan romantis sekali meminta kami datang saat senja seindah ini. payung payung bagaikan kuncup bunga bermekaran, terkembang di sana sini. Di sudut-sudut gedung, di taman kota, di toko-toko. Aku selalu menikmati pemandangan ini.

Brakk, tiba-tiba saja aku terbentur pada daun beringin yang kecil. Rupanya, terlalu asik mengamati perangai-perangai di sekelilingku aku jadi lupa kalo di bawahku ada sebatang pohon beringin. Gravitasi memaksaku terus merangsek dedaunan kecil ini, hingga terlihat olehku sosok seorang  perempuan muda terduduk tepat menyandar pada batang beringin ini. tiba-tiba aku terlonjak ketika melihat dia tiba-tiba menatap ke atas ke arahku. Kulihat matanya berkaca, bening. Dan aku jatuh begitu saja di pipinya dan berjumpa dengan kawanku. Aku bercampur padu dengan mereka yang sedikit keruh, namun masih berkilau. Lalu kami bergulir dari pipi si perempuan dan dari dagu perempuan ini kami kembali jatuh ke tanah.

Di perjalanan menuju tanah, aku bertanya pada sahabatku itu tentang pemandangan terakhir yang aku lihat pada tugas kali ini.

“dia seorang istri yang hampir saja bahagia” temanku itu membuka dengan singkat. Pembukaan yang mengundang pertanyaan lainnya. Namun sebelum terbuka mulutku untuk berbicara ia angkat kata lagi.

“ Suatu siang ia bertemu dengan seseorang yang telah lama ia kenal …”

***

“ … jadi bagaimana kabarmu Ya?”, orang itu membuka percakapan dengannya ketika mereka menemukan tempat duduk di taman kota.

“ Seperti yang lu liat Wan. lu sendiri gimana? Udah lima tahun aja, lama juga ya”, si perempuan tertawa pelan. Tidak ia sadari si laki-laki yang hendak dipanggilnya Awan itu, memperhatikannya. Seolah memanggil kembali memori yang telah lama tertimbun memori baru.

“iya juga ya ga kerasa, lo masih bertahan di Bank itu?”

“begitulah, gue ga terlalu suka pindah-pindah pekerjaan. Lho katanya lo mau ngelanjutin Master, udah jadi?”

“ ..ni baru aja pulang gue. Makanya lagi mau refreshing macam nostalgia gitu” si lelaki tertawa lepas seolah melegakan sesuatu dalam pikirannya.

“ pantesan lu putihan, haha. Ngambil dimana? Jadi di Eropa?”, tanya si perempuan sambil menenggak the kotak di tangannya.

“ di jepang gua kemaren. Lu belum jadi ngelanjutin Ya? Masih inget dulu elu yang ngompor-ngomporin”

“ haha, gua pengen ketawa kalo inget itu. Nyatanya di sinilah gue sekarang. Adik gue ga bisa ditinggalin tuh”

“ terus, kamu udah nikah?” si laki-laki bertanya spontan.

“ya kali Wan, sore begini kalo udah nikah yang ada gue di rumah lagi masak..”, ia tersenyum melempar pandang jauh ke depannya.

Sementara dari samping, si laki-laki turut mengikuti pandangannya.

“haah, jadi pengen naik lagi gue. Kita belum jadi ke rinjani kan Ya?”

“gile aje lu Wan, berapa umur kita sekarang almost thirty Men. Lagian kerjaan di kantor ga memungkinkan. Lama juga sih gua ga exercise rajin kayak dulu. Demi memenuhi keinginan naik gunung bersama kalian”

“eh si Abdi dimana sekarang, jadi kangen gue. Lu masih nyimpen kontaknya Ya, mau dong gue. Kontak Aya juga deh?”

“ada nih. Mau ada pengajian ni di rumah abis maghrib gue cabut dulu ya Wan”

“oh, yaudah. Eh lu tinggal dimana sekarang?  Gua masih berencana tinggal beberapa hari lagi di sini. Tar biar sempet mampir” Awan menyiapkan smartphone untuk mencatat.

“deket dari sini kok, di KM 9. Tar sms aja kalo mau mampir. Saya tinggal berdua sama Upi”

Setelah pertemuan sore itu Awan tidak lagi menemui Aya. Yang ia temui justru kawan lamanya Abdi. Mereka sibuk membahas kenangan lama tentang naik gunung. Tentang dosen yang mereka kagumi, dan semua hal. Termasuk tentang Aya.

“ gue ga pernah sekagum ini sama cewek ya Wan. Aya emang great banget. Bukan Cuma karirnya yang shining. Tapi juga, you know dia punya ketahanan yang keren terhadap segala jenis suffering.”

“gue ga ngerti Boy. Lu mau ngomong apa?” tanya Awan mengerutkan dahi.

“lima tahun belakangan setelah kita wisuda dan mencar, lu bayangin ini adalah slide hidup paling complicated bagi Aya. Gue tahu karena gue tinggal sekota sama dia. Dan lumayan sering ngobrol bareng dia.” Putus Abdi yang ditunggu Awan dengan muka penasaran menunggu kelanjutan cerita.

“orang tua Aya bercerai. Ayahnya menikah lagi tepat ketika dia mau wawancara kerja. Beberapa waktu kemudian, dia dikejutkan dengan tagihan hutang keluarganya. Padahal waktu itu, dia sedang menunggu pengumuman beasiswa masternya d jepang. Dan nyatanya memang dia diterima. Lu tahu ga, kejadian paling ga enak adalah waktu dia nelpon gue sambil nangis demi mendapat support untuk meneruskan hidupnya. Adiknya waktu itu sedang Ujian Nasional dan siap-siap masuk perguruan tinggi. Akhirnya doi lepas deh tuh masternya buat ngelunasin hutang-hutang itu, dan lu tahu kan kalo dia terlalu smart untuk di tolak oleh bank syariah itu. Dan ga usah lu tanya, gua kasih tahu kalo dia AVP di Bank tempatnya bekerja sekarang men. Gile tuh bocah. Inget banget gua kalo dia mewek-mewek minta dukungan, untung bini gue suka masak. Jadi kalo dia udah mewek-mewek gitu diajak ke dapur dia langsung lupa mau mewek. Dia jadi pecah. Maksud gua masakan Aya tuh pecah banget Boy.”

“terus kenapa Aya belum nikah sampe sekarang. Rasanya terdengar ga wajar ajah, cewek smart kaya dia nganggur gitu” si laki-laki awan lagi-lagi bertanya ringan.

“ nah itu dia Boy. Ga tahu deh. Apa yang ada di kepala Aya. Dulu banget setelah wisuda, dia didatengi seorang pengacara, kakak kelasnya dia waktu sekolah menengah.  Tapi dia tolak aja tuh enteng banget. Ya, gua sih maklum sama kondisinya dia yang waktu itu masih shock. Terus dua tahun lalu salah satu karyawan satu program sama dia, dateng juga ke gue demi mensukseskan rencananya menaklukan hati Aya. Tapi si Aya membuat mundur itu laki-laki. Yang ini nih mulai ga wajar, ketika gua tanya kenapa, dia enteng banget bilang “gua rasa bukan dia Di” ga ngerti lagi deh gue. Yang terakhir ini Wan lu tahu ga siapa? Ustadz muda lulusan Mesir hafidz  men, dateng buat minta tangannya Aya. Si Aya yang mundur. Galau gila tuh cewek”

“Ustadz? Dia gaul sama ustadz-ustadz juga?”

“Oia, ya gitu deh. Selepas dari kampus dan seiring komplikasi hidupnya, Aya jadi getol banget belajar quran. Hapalannya aja udah jauh di atas gue, padahal start-nya duluan gua men hahaha. Lu kan tahu, dia dulu kaya mana. Sejak tiga tahun lalu dia gabung ke sebuah rumah quran buat setoran hapalannya itu. Nah, anak ustadzah yang suka nyimakin hapalannya Aya itulah yang maju buat ngelamar Aya. Buset dah si Aya, ga tau diri banget tuh bocah. Kalo gue jadi dia, yang terakhir ini udah ga pake mikir deh langsung terima weh.”

“hahah, lagu lu Boy” si Awan merusak rambut Abdi sambil tertawa.

“Eh Bro, coba aja lu yang maju. Kasian gue liat Aya belum lengkap gitu hidupnya. Haha. Bersyukur banget gua kalo dia mau sama elu”

“ Gila lu Di, sekelas ustadz aja dia tolak, apalagi gue Men. Brilliant banget saran ente..”

who knows? Lagian elu juga ngapain masih betah jadi perjaka keren. Ga snewen apa lu liat cewek-cewek cantik berseliweran? Heran gua sama lu pade.”

“.. lupa men gue, kalo masih single. Hahaha”

“buset dah, apa kata anak gue nanti liat om-nya masih ting-ting. Udah pokoknya gua saranin atau anggep aja ini permintaan gue ke elu Boy, buat jagain Aya kalo dia mau. Ahaha”

“…”

***

“ Jadi lo mau balik ke Jepang bulan depan?” kata Aya suatu sore di depan kantornya. “ … ya begitulah, sponsor penelitian gua dulu minta gua nyelesain proyek mereka di pantai selatan Hokaido. Setahunan mungkin” jawab Awan. “.. sebenernya ada yang pengen gua tanyain ke elu Ya” tambahnya. Tanpa menunggu yang ditanya menjawab, Awan langsung menambahkan petanyaannya.

“ … udah pernah ada yang ‘dateng’ ke elu Ya?”

“eump, beberapa sih. Belum cocok mungkin”

“Kalo gua Ya? … eummp kalo gue yang dateng gimana?” kata Awan terdengar mantap namun terbata-bata. Yang diajak bicara setengah terkejut lalu kembali menatap gelas es teh-nya.

***

Aya memang terlihat seolah menunggu datangnya Awan. Karena begitu mudahnya dia bilang ‘Iya’ kepadanya. Kedua keluarga kemudian mengikuti kehendak anak-anak mereka yang ingin segera melangsungkan pernikahan dua minggu kemudian.

“Entahlah Di, saya hanya merasa yakin. Upi sudah menyelesaikan kuliahnya. Ibu sudah bisa dijaga Upi. Anak terakhir Ayah juga udah masuk sekolah. Rasanya lega. Saya pikir ini hanya masalah timing Di. Dan Awan memang datang di waktu yang tepat, ketika saya merasa semuanya telah bisa saya lepaskan. It’s all about time

“ lu udah lebih dari cukup Honey. Sekarang giliranmu bahagia. Eh gua jadi inget waktu nemu salah satu foto kita waktu ke Merbabu. Ini dia lu liat deh”

“kenapa foto ini? ga ada yang aneh” sambil mengamati selembar foto yang baru saja ia terima dari laki-laki Abdi itu.

“lu liat dong Hon, elu straightly keep your eyes on him without a curve. Don’t  you ever realize it? Di saat yang lain ngeliatin matahari terbit, elu tak terpengaruh sama semua distorsi dan menatap Awan mantap gitu kok. Cuma elu yang ga nyadar, siapa yang liat juga bakal mupeng diliatin kaya gitu”

“hahah, Gua lupa Men. Pernah juga kagum sama Awan. Tapi sambil lalu”

This is destiny Aya. Mungkin ini cara kerja jodoh kali Hon” Abdi tersenyum kepadanya tulus.

“…and he is mine now

I’ll always wish you two all the best

thank you,  I am grateful for you so bad Abdi. Pekan depan saya ikut Awan ke Jepang. Baik-baik di sini ya”

“..what? hey Non, but you are Assistant Vice President don’t you even remember that? Beuh, tuh bocah nyulik ponggawanya Bank ternama juga dia, sial”

“hahah lu bisa aja Di.  Udah gua urus sejak Awan resmi gua terima kok. Jadi InsyaAllah mereka ga rugi ditinggalin gua. Udah disiapin pengganti yang lebih Oke. Lagian, seneng banget gue ninggalin sesuatu demi sesuatu lain yang lebih berharga. I’ll deserve surga you know. This is worth it. Ga rugi gue”

“Sialan, gue iri sama Awan. Mana dia sekarang?”

“Gue di sini men, ngapain lu culik istri gue. Sini balikin” sejurus kemudian Awan langsung merengkuh tangan istrinya itu.

“..hey Dear, Mama udah pulang?” Aya menyambut suaminya dengan hangat.

“udah tadi sama adek. Lagi ngobrolin apa sih, heboh banget lu Boy” Awan menepuk bahu Abdi.

“ Enggak ada kok, gue cuma mau bilang jagain tuh istri lu Boy, kalo kagak ni cewek yang adorable bisa-bisa diculik orang you know

“hahaha”

***

Dan pekan berikutnya Aya dan Awan terbang ke Hokaido. Beberapa minggu kemudian, Abdi baru saja merasa lega atas kelahiran anak keduanya, ketika tiba-tiba ia mendapatkan berita mengejutkan lewat emailnya.

From : Aya Hermawan

To : Abdika Mahayana

Subject : Jemput kami di Soetta Besok Malem

… Abdi you know, I’ve never complain or even ask ALLAH about my life-story. But, I’ve always need your word to make sure that I’m alive. So am I alive now. When my half soul passed away in front of my eyes?

Awan kecelakaan di tengah lautan dingin Hokaido kemarin malam. Dan Allah mengambilnya dariku. Allah terlalu menyayanginya. Kami akan segera pulang, dan kami membutuhkan tumpangan untuk mengantar kami ke rumah. Kepadamu Abdi, kami bisa minta tolong.

Yang masih hidup,

Aya

From : Abdika Mahayana

To : Aya Hermawan

Subject : you’ll always Alive

Pulanglah dengan selamat dan utuh Aya, pulanglah dengan hati dan jiwamu yang utuh. Bawa serta belahan jiwamu dan kita sempurnakan kepergiannya kepada Tuhannya bersama. “setiap yang bernapas akan mengalami mati Honey”.

I’ll be in Soetta. I’ll pick  you Honey, be safe.

Yang selalu bersamamu

Abdi

***

“Begitulah cerita perempuan bernama Aya ini kawan, dan hari ini tempat kita bertemu adalah hari dimana ia mendengar kalimat istri sahabatnya itu, yang membuat dia melarikan diri ke bawah pohon tadi.”

“Apa yang baru saja dia dengar kawan?”

“ dia mendengar istri sahabatnya meminta suaminya untuk menikahi Aya demi menjaga hidupnya.”

“ maksudmu?  Istrinya Abdi? Meminta Abdi menikahi Aya?”

“begitulah”

“Aku kira dunia hanya diisi oleh makhluk-makhluk tidak berhati. Ternyata aku salah”

“Perempuan itu terlihat tidak tahu apa yang akan dia lakukan seandainya Abdi tergerak hatinya untuk menikahinya. Perempuan ini merasa tidak mungkin sanggup mencerabut kesempurnaan bahagia sahabatnya sendiri. Lihatlah aku, begitu bening di tengah derai air hujan sepertimu. Aku tidak diproduksi oleh orang yang selalu kecewa akan jalan hidupnya. Terima kasih kepada perempuan Aya, semoga ia berakhir dengan baik dalam hidupnya.”

ImageKami berdua kemudian jatuh ke tanah basah. Meresap ke liang-liang tanah. Entah kapan waktu lagi aku bisa bertemu dengan Aya. Butuh beberapa waktu mulai dari meresap kedalam tanah, mengalir bersama aliran sungai, dan berkelana di samudera hingga menguap keawan dan mengantri untuk disebut hujan.

“ Ada banyak rupa manusia yang aku temui setiap kali bertugas menghujani bumi, ada banyak perangai yang aku saksikan setiap kali menerjunkan diri. Ada banyak cara untuk menjadi bermanfaat dengan semua kisah. Ada banyak nama, tapi Tuhan memberiku sebuah nama, Hujan. Semoga Aku diturunkan untuk sebuah saja manfaat”

“Kau tahu, siapapun yang mendengarmu berceloteh saat ini, pasti akan menganggap kau sedang jatuh cinta. Kau tahu, kau selalu punya kalimat unik yang mudahnya menari-nari di kepala orang lain. Gampangnya orang pasti bilang you are lovable saat melepasmu dengan kata-katamu. Honey you are life with your word

kau tersenyum mendengarnya dan berkata,“aku hanya ingin memahamkan pada diriku sendiri bahwa kata ‘cinta’ itu tidak sesakral yang ada di kepala orang pada umumnya. Dan common sense juga yang mempersempit makna cinta. You know kebanyakan kita mengasosiasikan kata love untuk satu hal yang sangat sempit. Padahal kepalaku punya gagasan yang lebih sederhana  tentang cinta. Cinta itu lebih sederhana, dan lebih luas dibanding apa yang dipahami oleh common sense saat ini”

Kau tahu Sayang mengapa Allah melarang kita mendekati zina. Karena begitu mudahnya kita terjatuh kepadanya. Bisakah kamu membayangkan betapa kacaunya dunia ketika zina suatu hari-misalnya telah dilegalkan. Akan ada banyak keturunan yang nasabnya tidak jelas. Tidak aka nada keistimewaan yang dirasakan seorang suami terhadap istrinya, tidak akan ada rasa special seorang istri memiliki suaminya. Atau bahkan mungkin tidak diperlukan lagi kata istri dan suami. Karena semuanya bisa diperoleh tanpa pernikahan. Bisakah kamu membayangkan itu semua Dear. Ah aku sungguh berharap Allah telah mencerabut nyawaku sebelum masa itu tiba.

Dan lihatlah dirimu Sweetheart, kamu memutuskan menutup tubuhmu seperti ini. Lihatlah dirimu. Gara-gara parno terhadap kemungkinan zina. Apa yang selalu kau bilang, tidak ada yang bisa membuatmu terjatuh untuk hal itu kecuali dirimu  sendiri. Dan gila kamu Sayang, ketika berkata bahwa kau selalu takut terhadap  dirimu sendiri. Pernahkah kamu menertawakan dirimu sendiri? apakah kau sudah gila bahkan kau tidak bisa mengatakan cinta pada orang yang kamu inginkan dia mendengarnya. Kau tentu masih ingat betapa beraninya kamu selalu mengatakan dengan ringannya kepada setiap orang yang kamu cintai. Dan sejak kapan, kau selalu menghindari perasaan-perasaan macam itu. Ah dulu kau begitu gentle. Apa yang kau pikirkan dulu. “Love is not a pleasure, it’s a sudden burden. Dan sabaiknya beban itu dibagikan kepada orang yang membuatmu jatuh cinta biar dia merasakannya dan bebannya dibawa bersama” ide yang bagus. Dan mengesankan mengetahui bahwa kau bisa hidup dengan caramu sendiri. kau tahu, aku merasa bukan aku yang membuatmu sperti hari ini. tapi you’re growing by yourself. Kadang aku juga berpikir barangkali kau tidak memerlukan apapun. Your  maturity dan beautiful mind made you survive in all kind of suffering.

Aku selalu ada di belakangmu setiap kali kau merasa kalah oleh dirimu sendiri. Tentu saja, jika saja seluruh semesta berkonspirasi menjatuhkanmu, kau tentu akan dengan tenang melihat mereka dari balik jendela kamarmu sambil menikmati secangkir teh di pagi hari seperti yang biasa kau lakukan. Tapi beda soal ketika, sel-sel dalam otakmu bersekutu membuatmu terbeku oleh hal-hal yang tidak bisa kau kendalikan.  Dan Karena begitu seringnya kau terjatuh kalah oleh dirimu sendiri, itulah yang membuatmu berdamai dengannya. Dan lihatlah dirimu sekarang bahkan seperti sudah menguasai dirimu sendiri. ah bahagianya aku menjadi saksi atas semua yang terjadi dalam dirimu.

Melihatmu betapa menderita ketika mencintai seseorang dan kau harus berusaha tidak menginginkan dia sesentipun. Ah Dear, apa yang sesungguhnya kamu inginkan dari sebuah kata cinta? Aku tidak pernah memahaminya. Please let me understand you, My Beautiful.

“Aku mencintaimu, aku hanya menunggu”

Dear, kau tentu tahu bahwa kau bisa saja mendapatkan cinta yang kau butuhkan. Bodoh sekali ketika kau membuat mundur laki-laki yang datang kepadamu. Bodohnya dirimu. Kau tidak ingin membuang waktumu dengan pacaran, ia datang dengan janji akan kebersamaan yang sah tidak bertele-tele. Ada pula yang datang kepadamu dengan semua janji masa depan yang menyenangkan, yang diimpikan semua perempuan tentang hidup mapan, apakah kau kehilangan akalmu waktu itu. Atau apa pula yang kau pikirkan saat seorang lelaki sholih mendatangimu, meminta tanganmu untuk mendampinginya seluruh hidupnya?  Aku hanya berpikir, apakah kau barangkali gila.

“aku hanya ragu bahwa mereka adalah dirimu”

Lalu apa yang kamu lakukan dengan mencintai seorang laki-laki Jakarta imajiner yang hanya kamu kenal lewat publikasi-publikasi achievement-nya yang membuatmu setengah gila meniru semua apa yang dilakukannya. Berlaku seperti seorang stalker memantengi semua ide dan gagasan yang ia tulis dalam blognya. Apa kau menganggap dia adalah aku? Laki-laki sholih yang kamu cintai, yang separuh hatimu kau menggadaikan semua kewarasanmu untuknya sedangkan separuhnya lagi bilang bahwa dia terlalu baik bagimu. Dan kau terlihat seperti seorang loser dengan hanya tersenyum mendengar namanya.

“aku pernah berharap dia adalah kamu”

Lalu siapa yang membuatmu menangis di tengah malam saat dia hanya bertanya kepadamu apakah kamu mau menjadi penerusnya di sebuah organisasi? Siapa dia yang berani-beraninya membuatmu menangis? Atau hanya karena ia mendoakanmu walaupun kau bilang tidak untuk tawarannya itu?

“dia bukan siapa-siapa. Dia hanya seorang sahabat yang tidak tahu kalo saya mencintainya. Dia manusia real pertama yang aku titipkan pada Allah supaya selalu mendapat takdir terbaik”

Dan oh Darling. Aku paling cemburu kepadanya karena kau terdengar tulus mencintainya. Jika saja aku tidak tahu bahwa kau memang punya hati yang luas untuk mencintai semua orang yang telah melakukan satu hal padamu. Yah, dari setiap lelaki yang pernah melekat di kepalamu, mereka punya benang merah yang sama. Entahlah, apakah kau menyadarinya? Mereka menginspirasimu. Mereka membuat your mind’s growing mature. Aku merasa, itulah yang selalu kau butuhkan dari seorang lelaki. Aku ragu kau akan membutuhkan yang lain. Aku tidak yakin.

“… karena laki-laki selalu punya pandangan yang berbeda dengan perempuan. Selalu menarik mendengar gagasan menemukan setiap senti perbedaannya dengan pendapat dan gagasan perempuan.”

Biar aku koreksi honey, maksudmu berbeda denganmu, right? Without your sense, bahwa your mind juga berbeda dengan perempuan yang lain. Tanpa kau sadari, kau begitu mudah jatuh hati pada seseorang yang memberi makan pikiranmu. Kau tidak pernah menganggap sama seseorang yang membuat pikiranmu tumbuh berkembang.

Seperti seorang sahabatmu yang kamu tentu tahu betul jika dia berharap juga memilikimu. Apakah kamu juga tahu barangkali ia minta kepada Tuhan untuk membuatmu menjadi jodohnya. Wanita bodoh mana yang berpura-pura tidak mengerti kalo sedang dicintai. Tidak ada kecuali dirimu Sweetheart. Dia bahkan selalu ada ketika kau frustasi terhadap target-targetmu yang gila. Dia bahkan selalu meminjami tangannya ketika kau membutuhkan ekstra tangan. Dan kau tahu, bahwa dia selalu tersenyum dan memandang ke satu arah. Ke arahmu.

“aku juga pernah berharap dia adalah kamu, hanya saja ada satu hal yang membuatku ragu. Mengapa tidak, dia goodlooking dan tentu saja manis tingkah lakunya, tidak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa teman-teman perempuannya iri setengah hidup demi melihat dia menyapaku saja. He is so gentle as always melindungi dan memastikan aku hidup dengan proper setiap kali bertemu dengannya. Siapa yang terlalu bodoh tidak menyadari itu? Ah, kau tahu, dalam hidup, aku merasa tidak pernah kehilangan cinta. Hanya saja, aku memilih untuk tidak memiliki semua itu. Aku hanya ingin mencintai banyak orang. bukan dicintai. Aku hanya ingin melatih hati untuk cukup peka mencintai banyak hal. Mencintai banyak hal. Belajar dari semua yang aku cintai, aku hanya ingin memastikan kau datang di saat semuanya sudah seperti yang seharusnya. You know, karena sekali saja aku membiarkan diri merasa dicintai, aku tidak akan bisa keluar darinya. Aku akan menemukan diriku tak tertolong, dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi. So I choose to love not to be loved. Kamu selalu bisa memahami sesuatu tanpa mencintainya, tapi kau tidak akan mencintai sesuatu tanpa memahaminya. So I love, then I understand. That’s my rule.

Oh Dear, I think I love you. Sorry but now, you are loved. So, apa yang ada di pikiranmu sekarang?

“percakapan ini hanya menyadarkanku bahwa aku rasa aku sedang jatuh cinta sekarang”

Siapa kali ini?

“Kau tahu setiap laki-laki tentu lebih kuat dari pada kami para perempuan, bukan? Kau juga pasti setuju kalo setiap laki-laki seharusnya bekerja dengan logika dan lebih berani mengambil resiko paling rasional, bukan? Dan kau jangan coba-coba membantah kalo laki-laki seharusnya smart dan visioner. Dan menurutku ketiganya sudah syarat mutlak dari lak-laki jadi tidak bisa lagi saya jadikan standar untuk memilih. Orang yang ingin aku ceritakan memiliki ketiganya dan dia adalah seorang yang beautiful mind versiku. Dia menjadi yang paling match the heart. Barangkali tidak sesholih si-jakarta yang dulu aku tergila-gila olehnya. Mungkin juga tak seromantis si-sahabat. Tapi dia begitu smart. He seems like he’ll always mastering all he did. Dia punya dunianya sendiri dan bodohnya aku berharap menjadi penghuni dunia itu. Bersamanya selalu menjadikan fresh pikiranku dengan joke dan gagasan-gagasan yang tak terduga tentang banyak hal. I feel alive just stay hearing him. aku tidak tahu apakah aku membutuhkan hal yang lebih dari ini. I think this is enough to life.

Oh, Dear what’s the earth going on in your mind? Why him?

I don’t know, maybe just because he is him. Can you make a love grow as your pleasure?

Jadi, haruskah aku berdoa pada Tuhan agar dia adalah aku? Haruskah?

“…tentu saja, silakan bantu aku menyampaikan ini pada ALLAH. Aku belum pernah seyakin ini.”

“Tapi… cinta bagiku bukan melulu persoalan antara laki-laki dan perempuan you know

I do, know you better than anyone else honey. Aku tahu betapa sederhananya cinta yang kamu pahami hingga sebatang rumput, sekecil jari kelingking, sependek pohon toge pun kamu bisa menemukan alasan untuk mencintai mereka. Bahkan angin gunung yang membuatmu menggigil. atau angin laut selatan yang memporakporandakan kerudungmu pun, kau masih mau bermesra-mesra dengan mereka. Atau kepada nusantara yang selalu kau elu-elukan. Atau tentang sepucuk gunung yang terus ingin kau daki? Atau seonggok kertas yang ingin selalu kau warnai? Kau terlalu banyak mencintai sesuatu. Hingga cinta yang keluar dari mulutmu terlihat bias di mata orang lain. Hanya bisa kau pahami sendiri. You are so life with your own way how to see a love. Love is a blessed, not a burden as you said dulu. Love is just a burden for the one who couldn’t manage it. and you My Dear, you did well.

“ ..berbicara masalah cinta juga berarti tentang Tuhan, dan utusannya yang bahkan hingga hembusan napas terakhirnya masih ia dedikasikan mengkhawatirkan kelanjutan umatnya.

Yang terakhir ini adalah the absolute love, the fascinating crazy absolute real love. Seperti yang selalu kamu katakan padaku kan Sweetheart?

absolutely Honey

Just stay to see your smile, make me wanna singSeiring fajar melepas malam, Sembari hari mengikat janji, Setulus hatimu yang ku tahu. Temukan aku tuk kau berlabuh—(Janji Maliq & D’Essential)
Find me Out Honey. I just can’t wait any longer to build a simple life with your love. Temukan aku untuk kau berlabuh. I’ll be The Try Better Man, let me be your last port.

“Ku masih menunggu Ku masih menunggunya, menunggu waktu kita”

ImageLihat fajar merona, memandangi kita, seakan tahu cerita tentang semua rasa, yang ingin kita bawa tanpa ada rahasia…Dan kita melangkah untuk lebih jauh lagi, lebih jauh lagi… (Setapak Sriwedari, Maliq & d’essential)

Cinta [itu] Imajiner

Posted: December 4, 2013 in Cerita Pendek Biasa

Ada sebuah pohon oak besar di padang rumput, menghijau di bawahnya rumput liar tidak beraturan. Di depan pohon itu mengalir sebuah sungai selebar rentangan tangan orang dewasa, tidak begitu dalam, hanya setinggi lutut orang dewasa. Namun orang dewasa selalu tidak bisa memahami pemandangan indah dari bawah pohon ini. ketika matahari tenggelam di balik padang ilalang di seberang sungai, aliran airnya menguning bagaikan lemon-tea hangat. Cahaya yang kian menguning dari ufuk barat menerpa wajah dan membuat rona merah di wajahmu. Desir angin yang pelan meniup helaian bajumu, menerbangkan juga rerumputan yang  ada di bawah tanganmu. Begitu sengau ritme angin ketika ia menyapa air yang mengalir. Seolah melawan takdirnya, air ingin mengikuti arah angin. Melagukan nada yang tak terdefinisikan dari sebuah keheningan.

Bayangan itulah yang selalu muncul ketika, aku menyebutkan namanya. Pemandangan sebuah padang rumput dengan temaram senja, dan aliran sungai yang merdu. Dia seolah menjadi simfoni dalam ritme hidupku, ia seolah melodi dalam setiap hentakan notasi lagu merdu hatiku.  Menyenangkan.

Baru beberapa saat aku mengenalnya, aku tahu jika ia datang padaku, tidak pernah akan ada jawaban kecuali “Iya”. Aku tidak pernah seyakin ini. Sewaktu pertama kali mendengar namanya, aku tahu dia berbeda. Setelah mengenalnya, aku tahu tidak akan ada yang bisa menolongku. Setelah mendengarnya berbicara padaku, aku yakin Tuhan akan menghukumku karena tidak bisa menyelamatkan diri. Aku terjatuh begitu dalam. Begitu, begitu, begitu sangat mengaguminya. Hingga dia menjadi  role model. Mengikuti semua yang dia lakukan, membaca apa yang dia baca, berpikir seperti caranya berpikir, dan menatap masa depan sebagaimana ia melakukannya. Semuanya sempurna aku tiru hingga pada satu titik, dimana pada titik itu ada satu hal yang hampir saja membunuhku, adalah bahwa ia begitu dekat, begitu takut terhadap Tuhannya, Tuhan kami. Itu tidak bisa aku tiru sementara mataku tetap menatapnya. Tentu saja,  Tuhan tidak akan menyukai apa yang aku lakukan. Siapapun tidak akan percaya bahwa aku harus menghabiskan bergulung-gulung tissue untuk mengatakan ‘selamat tinggal’ padanya. Dengan begitu, aku merasa bahwa Tuhan merentangkan tanganNYa untuk menyambutku. Kini sempurnalah semua yang aku tiru darinya. Tetap saja, aku tidak bisa seperti dia.

“Kau selalu punya alasan untuk kembali bangkit, Cinta. Kenapa kau begitu menyedihkan seperti ini. this is not you.”, Cici menatapku lurus-lurus sejak tadi. Tangannya sudah lama menegakkan jemariku yang tak berdaya.

“Aku tidak pernah membayangkan akan harus memilih antara Tuhan dan cinta. Padahal aku berharap keduanya ada di pihak yang sama”.

“No, kamu tidak berhak berkata seperti itu. Tuhan lebih tahu apa yang harus Dia lakukan. Just live your path Honey”, tidak pernah aku temukan kejernihan macam ini di mata cici, entah apa yang membuat matanya begitu magis kali ini.

“ I don’t know what I’m gonna do without him. ga ada tempat buat orang baru. Lalu apa yang akan terjadi dengan isi kepalaku ini Ci. Aku takut berkhianat pada banyak orang setelah ini. karena aku belum menyelesaikan urusan dengannya Ci”

“ Ou, Come on  Dera, kamu tidak pernah memulai apapun dengannya. There is nothing should be finished.  Dia berada jauh puluhan kilometer darimu. Kamu tidak benar-benar mengenalnya kan? Dia belum tentu mengingat email-email yang kalian lakukan. Dia hanya baik. Dia hanya baik, dan selalu baik di matamu. Dia imajiner. Dia tidak benar-benar eksis dalam kehidupanmu Sayang. Lalu kepalamu yang sangat awesome ini, melengkapi profilnya dengan sangat baik sehingga menjadikannya sempurna di matamu. Put it off honey, you have your own life, you’ll have your own love. That is not him.”

Lalu aku menarik bahu cici untuk menopang tanganku memeluknya. “Ah, what a poor of you Dera, please stop crying”. “It’s Allah standardization said that he is the best Ci. Kamu pernah denger kalo dia berusaha keras untuk menghapal quran, dan dia mendapatkannya. Kamu lihat sendiri bagaimana usaha dan passion-nya membela masyarakat kita dari keterpurukan, kamu baca ci, kamu baca sendiri bagaimana dia memandang bahwa hidupnya bukan hanya miliknya. Kamu tentu bisa memahami kalo ilmu bagi dia adalah hidup dan matinya. And I love him with all of his act. I know, i’ve had a hope. But Allah is more than enough. That is definitely, absolute ”

“kamu benar Cinta, Allah lebih dari segalanya. Cukup bagi kita. yang terbaik belum tentu baik buat kita”

Kini semua kekuatan seolah menguap bersama angin senja kali ini. untungnya, rerumputan di belakang rumah Cici bisa menopang tubuh kamu dan memberikan dukungan berarti untuk nyamannya punggung ini bersandar kepada mereka. Dan bersama sumbangnya suara angin, cici berbisik di telingaku “Honey, katanya buat cewek tidak penting apakah kita menikah dengan orang yang kita cintai atau bukan, yang lebih penting adalah kita menikah dengan orang yang mencintai kita. kamu gak pernah nyadar, bahwa kita begitu sering jatuh cinta? Ah konyol sekali cinta itu. Makanya beruntunglah kita terlahir dan meng-klaim diri sebagai muslim. Allah menjamin semua yang terbaik bagi kita. termasuk masalah cinta. Walaupun belum merasakannya, aku yakin aku akan bisa mencintai orang yang menikahiku nanti. Kau tahu kenapa? Karena dialah yang memilihku. Bukannya laki-laki selalu bisa mempertanggungjawabkan pilihannya ya. Jadi ga mungkin ia menelantarkan wanita yang dipilihnya Honey, seharusnya sih gitu, ya kan?”

Aku menoleh kea rah wajahnya yang bersandar di bahu kananku. Dan berbisik “Sok tahu, kamu ga inget Rasulullah itu dipilih oleh istri pertamanya, bukan dia yang memilih”

“Lho, Rasulullah mah extra ordinary man Cinta, dia mah orang paling taat sama Allah. Ga mungkin dia bersikap ga  baik pada istrinya. Apalagi kalo diamanahkan langsung sama Allah”

“kamu benar Ci, aku tidak akan punya alasan untuk memilih. Jadi aku hanya akan menunggu dipilih, begitu ide yang bagus kan?”

Not really, menurutku kita ga selemah itu. Kita juga bisa memilih” cici tersenyum bangga.

“oya?”

“tentu saja, kita kan bisa memilih ‘ya’ atau ‘tidak’ kepada orang yang memilih kita. begitulah cara kita memilih”. “Wow, Supperb banget Ci. Aku ga pernah tahu kau paham bener masalah ini”. “dan aku ga pernah tahu kalo Dera yang amat amazing di kelas, payah banget masalah ini”, Pletok, tangan cici mendarat di kepalaku. Tak mau kalah akupun membalasnya.

Kini rerumputan bertebaran karena tangan kami yang saling melempar. Aku tidak pernah tahu apa yang terjadi dengan masa depanku soal percintaan. Tapi aku setuju sama gagasan yang disampaikan Cici. Tuhanku memang yang Terbaik, eh, Satu-Satunya Tuhan yang eksis.